Apakah kau akan kembali menerobosi benakku?
Berbekalkan teks leteranmu yang panjang dan menjengkelkan...
Merendahkan keamatanku... menghinakan kemuliaanku...
Mematahkan rerantingku, melemaskan akarku...
Menghakis keperibadianku sehingga aku hilang... sekadar halimunan?
Sehingga tiada indera yang dapat melihat gemalai lambaianku?
Kacau jiwaku... Bukan.. Ya... Takut percaturanku disalah anggap...
Malah engkau sendiri tidak menerima erti...
Menempelak di pertengahan suku kata... menyekat suara... mencantas hujah!
Dengan angkuh mempergunakan patah-patah Firman dan Sabda...
Sedangkan Firman dan Sabda tidak menakluk sanubari tarimu...
Ah! Sesak nafasku, tercungap-cungap menahan geram...
Tak dibenar membenarkan yang benar dan kau....
Ah... Kau terus saja memalu gendang pendita palsu!
Keadilan namun tiada keseimbangan...
Di sebalik kekusutan, kau bersemangat mencanang kepura-puraan!
Aku pula... Dungunya...Longlai langkahku dituntun tangan gasarmu...
Dan aku direndahkan lagi... Diherdik lagi... Terperosok lagi aku di bawah telapak kakimu...
Bergema aku mengaduh, namun tiada jawapan belas...
Ingin saja aku berlari menderu seperti angin ribut...
Menyapu terus manik-manik yang berkaca sebelum menitis membongkar kelemahanku...
Ketawa dan terus ketawa melihat ketiadaanku dalam penjara ilusi itu...
Ya... Bagaimana kalinya?
Sedang kau menggenggam padu rantaian yang melilit semangatku...
Semakin aku meronta mengemis bebas...
Semakin tersekat nafasku... Rohku dibelit... diperah hingga kering...
Lalu dibiarkan rebah dan berderaian di lantai...
Kemudian diam... Kemudian sepi... Kemudian aku sendiri lagi...
Mengutip semula serpihan-serpihan jiwaku... Atau apa saja yang bersisa...
Memujuk seorang aku untuk menerima...
Juga pernah menjarum seorang aku untuk pergi...
Atau terus diam, menyepi menunggu kau menerobosi benakku kembali...
HASIL PENA
ANAK SAUDARAKU
Isis_persona
No comments:
Post a Comment