Kemarin…
Ranggas kemarau
Kering kontang
Langkah kakiku yang kian longlai
Menapak di tanah yang gersang dan tandus ini
Kiranya…
Telah jauh ku tinggalkan desa puisi
Hanya lima purnama ku bermukim di persisi
Taman sendaloka yang sepi
Menjadi sejarah dalam diari diri
Kini...
Aku melangkah pergi
Imtihan hayat sentiasa mengekori
Pasti.. di sisi...
Di setiap denyutan nadi
Saujana mata
Mencerlung di hadapan
Di lengkuk langit
Jelas... indah...
Tika muncul jalur benang merah dari benang putih…
Waktu fajar menyingsing…
Meraih semangat
Yang terlunta-lunta
Ingin aku ke sana
Mungkin akan ku temui
Gapura Kencana yang ku impi
Terbentang luas untuk ku susuri
Walau hanya impian
Atau sekadar hanya bayangan
Menanti hadirnya satu keajaiban
Mungkin di sini...
Di Gapura Kencana ini
Punya bustan sakinah
Yang sudi mengakrabi
Suara-suara hati
Selembut sutera
Sebening kasih
Kembali bergemeresik berbisik
Mengalunkan irama ketenangan
Damai... mengasyikkan...
Suara-suara hati yang sentiasa
Fikir melafaz zikir
Bertahmid syukur pada Ilahi..
Biarpun tanpa iringan
Paluan gendang dan rebana
Tanpa gemerincing kerincing dan marwas
Mungkin di sini...
Di Gapura Kencana ini
Tiada lagi kemarau di hati
Ku sirami air mawaddah dalam diri
Ku lontar jauh cendala mazmumah dari sisi
Ku lorek kesyukuran di perdu nurani
Ku ukir kalimah-Mu di dada ini
Menjadi pendinding jati diri
Moga tiada kualat menghampiri
Gapura Kencana
Pesona sakinah menjelma
Menggamit bahana
Suara-suara hati mulai bergema...
No comments:
Post a Comment