Bisikan hati tanpa suara
Di dinding hati, sayu dan hiba
Di ketuk resah di birai rasa
Sepi, bungkam di jeruk resa
Badai godaan apakah yang melanda
Seperti mana sudah ku jangka
Apakah aku hanya musafir
Di desa ini sekadar mampir
Menumpang lalu hanya di pinggir
Ku lewati gelanggang puisi
Suasana suram tidak berpenghuni
Kerincing terasa sumbang berbunyi
Marwas seperti sudah jemu menemani
Jari-jemari seperti kekok menari
Ku susuri desa puisi
Di sini pohon iman yang ku semai
Ku sirami dengan air ketaqwaan
Menjadi sendi kekuatan
Berteduh seketika dalam ketenangan
Sebelum mencari jalan pulang
Destinasi yang hanya impian
Tersentak aku dari lamunan
Terimakasih Tuhan
kerana diberi kesempatan
Aku redha dalam kepasrahan
Seandainya ini ketentuan
Terdengar 'gemeresik' berbisik
Walau tanpa suara...
Seruan tanpa paksaan
Wahai Sutera kasih...
Aku ada kerana kau ada
Lakarkan segalanya
Di dadaku..
Bebaskan...
liang-liang lara dari hatimu
Di sini...
Akrabilah aku
Aku tetap setia
Aku tidak pernah jemu
Paculah penamu..
walau tanpa warna..
Wahai 'gemeresik'....
Aku letih merintih
Bisikan hatiku
walau tanpa suara
walau tanpa warna
walau tanpa warna
hanya kau yang mengerti
rahsia sekeping hati...
No comments:
Post a Comment